Bukitbatu,,Riauline.com - Malam di Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, terasa berbeda menjelang Tahun Baru Imlek 2026. Ribuan lampion merah menyala menghiasi sepanjang jalan utama, memancarkan cahaya hangat yang seolah menyapa setiap langkah warga yang melintas.
Sejak beberapa hari sebelum Imlek, wajah Sungai Pakning perlahan berubah. Lampion-lampion digantung rapi di kiri dan kanan jalan, berpadu dengan ornamen khas Tionghoa yang menjadikan kawasan ini tampak seperti sebuah China Town kecil di pesisir Riau.
Saat malam tiba, cahaya lampion memantul di aspal dan bangunan sekitar. Suasana meriah pun tercipta, menarik perhatian warga maupun pengendara yang sengaja melambatkan laju kendaraan, bahkan berhenti sejenak untuk mengabadikan momen penuh warna tersebut.
Perayaan Imlek di Sungai Pakning tidak hanya menjadi milik etnis Tionghoa semata. Warga dari berbagai latar belakang suku dan agama turut menikmati keindahan lampion, menyatu tanpa sekat dalam suasana kebersamaan yang kental.
Kerukunan hidup antar suku yang telah lama terjaga di Sungai Pakning kembali terasa kuat pada momentum ini. Tradisi saling menghormati dan hidup berdampingan tercermin dari antusiasme masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan selama perayaan berlangsung.
Imlek 2026 yang ditandai sebagai Tahun Kuda dimaknai sebagai simbol semangat, kerja keras, dan keberanian. Nilai-nilai tersebut seolah mencerminkan karakter masyarakat Sungai Pakning yang dikenal gigih dan terbuka dalam membangun kehidupan bersama.
Di balik gemerlap lampion, terselip rasa syukur dari warga Tionghoa setempat. Kayong, salah seorang warga Sungai Pakning, mengungkapkan bahwa tradisi memasang lampion setiap Imlek selalu membawa kebahagiaan tersendiri.
“Kami sangat bersyukur. Setiap Imlek, suasananya selalu hangat. Lampion-lampion ini bukan hanya milik warga Tionghoa, tapi sudah menjadi kebahagiaan bersama masyarakat Sungai Pakning,” ujar Kayong dengan nada haru, Senin (16/2/26).
Menurutnya, toleransi yang terus terawat menjadi kunci terciptanya suasana damai di daerah ini. Sungai Pakning, kata Kayong, adalah contoh kecil bagaimana keberagaman dapat dirawat dengan sikap saling menghormati dan kebersamaan.
Aparat dan tokoh masyarakat setempat turut ambil bagian memastikan perayaan berjalan aman dan tertib. Sinergi ini semakin menegaskan bahwa Imlek bukan hanya perayaan satu kelompok, melainkan milik seluruh warga Sungai Pakning.
Di bawah cahaya ribuan lampion, Sungai Pakning kembali menunjukkan wajahnya sebagai ruang hidup yang menjunjung tinggi toleransi dan persatuan. Sambutan Imlek 2026 Tahun Kuda pun menjadi simbol harapan, bahwa harmoni antar suku dan budaya akan terus menyala di Kabupaten Bengkalis.
Komentar Anda :