Home | Nasional | Internasional | Daerah | Politik | Hukrim | Ekonomi | Sport | SerbaSerbi | Tekno | Lifestyle
 
Pertalite Bersubsidi dalam Sorotan, Dugaan Perlakuan Berbeda di Bengkalis
Rabu, 15-07-2026 - 20:46:45 WIB | Alfis
TERKAIT:
   
 

 


Bengkalis,Riauline.com – Matahari belum terlalu tinggi ketika Azi berdiri di depan sebuah SPBU di Kecamatan Bengkalis. Harapannya sederhana, mendapatkan beberapa liter Pertalite untuk kembali dijual secara eceran demi menambah penghasilan keluarga. Namun harapan itu berulang kali pupus. Bahan bakar bersubsidi yang dulu relatif mudah diperoleh kini terasa semakin jauh dari jangkauannya.


Di tengah kesulitan tersebut, pemandangan berbeda justru terlihat di sejumlah sudut kota dan desa. Pom mini dan kios-kios penjual BBM masih berdiri melayani pembeli seperti biasa. Tangki-tangki kecil mereka tampak tetap terisi, seolah pasokan Pertalite tidak pernah menjadi persoalan.


Pemandangan itulah yang membuat banyak warga bertanya-tanya. Jika Pertalite kini sulit diperoleh oleh sebagian pengecer, mengapa masih begitu mudah ditemukan di tempat-tempat penjualan eceran? Dari mana pasokan itu berasal? Pertanyaan tersebut terus bergulir dari warung kopi hingga media sosial.


"Pertalite ajab betul sekarang ya bang. Tapi herannya pom mini rata-rata dapat semua," ujar Azi dengan nada heran, Rabu (15/7/26).Kalimat sederhana itu menggambarkan kebingungan yang juga dirasakan banyak warga lainnya.


Di pulau Bengkalis merupakan sentral pemerintahan, Pertalite bukan sekadar bahan bakar. Bagi sebagian masyarakat, keberadaannya berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi sehari-hari. Nelayan, petani, pekerja kebun, hingga pelaku usaha kecil bergantung pada ketersediaan BBM bersubsidi tersebut untuk menjalankan roda kehidupan mereka.


Karena itu, ketika muncul kesan bahwa ada pihak yang mudah mendapatkan pasokan sementara yang lain kesulitan, rasa keadilan masyarakat pun terusik. Dugaan adanya perlakuan berbeda dalam pelayanan pembelian Pertalite mulai menjadi bahan perbincangan yang semakin luas.


Dari berbagai informasi yang dihimpun di lapangan, masyarakat menduga masih terdapat praktik pembelian Pertalite menggunakan wadah besar seperti drum yang kemudian didistribusikan kembali kepada pengecer tertentu. Dugaan itu muncul karena pasokan Pertalite di sejumlah pom mini terlihat tetap lancar meski pengawasan distribusi BBM bersubsidi disebut semakin ketat.


Belum ada bukti resmi yang menguatkan dugaan tersebut. Namun fakta bahwa Pertalite masih mudah ditemukan di berbagai kios menjadi alasan mengapa pertanyaan publik terus bermunculan. Di balik setiap liter Pertalite yang dijual eceran, tersimpan rasa penasaran yang belum menemukan jawaban.


Padahal aturan pemerintah telah mengatur bahwa Pertalite sebagai Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) harus disalurkan secara tepat sasaran. Penjualan menggunakan drum maupun jeriken untuk tujuan diperjualbelikan kembali pada prinsipnya tidak diperbolehkan, kecuali untuk kebutuhan tertentu yang memenuhi persyaratan administrasi sesuai ketentuan.


Regulasi tersebut dibuat bukan tanpa alasan. Negara ingin memastikan subsidi yang diberikan benar-benar dinikmati masyarakat yang berhak. Setiap liter Pertalite yang salah sasaran bukan hanya persoalan pelanggaran aturan, tetapi juga menyangkut hak masyarakat yang membutuhkan.


Ketika sebagian warga mengaku kesulitan memperoleh Pertalite, sementara pom mini tetap ramai melayani pembeli, muncul kesan adanya dua realitas yang berjalan bersamaan. Di satu sisi ada mereka yang harus berjuang mendapatkan pasokan, di sisi lain ada pihak yang terlihat tidak mengalami hambatan berarti.


Hingga kini, jawaban atas berbagai pertanyaan itu masih dinantikan masyarakat. Pemerintah daerah, instansi pengawas, dan pengelola SPBU diharapkan dapat membuka informasi secara transparan mengenai mekanisme distribusi Pertalite di Bengkalis. Sebab di balik antrean, jeriken, dan pom mini yang terus beroperasi, ada harapan besar masyarakat agar subsidi negara benar-benar disalurkan secara adil dan tidak menyisakan ruang bagi berbagai dugaan yang berkembang.


Menyikapi kondisi tersebut, wartawan telah berupaya meminta penjelasan dari Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Bengkalis, Zulfan, terkait dugaan adanya perlakuan berbeda terhadap pengecer dalam pelayanan pembelian Pertalite di SPBU. Namun hingga berita ini diterbitkan, konfirmasi yang disampaikan melalui pesan WhatsApp belum mendapatkan tanggapan.(Eru)


 




 
Berita Lainnya :
  • Pertalite Bersubsidi dalam Sorotan, Dugaan Perlakuan Berbeda di Bengkalis
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Indeks Berita  
    01 Gebyar PBB-P2 Desa Api-Api: Bayar Pajak Dapat Hadiah, Warga Antusias Dukung Pembangunan Daerah
    02 Pertalite Eceran Kian Mahal di Bengkalis, Pengecer Mengaku Terjepit Biaya Tambahan
    03 Pertalite Bersubsidi dalam Sorotan, Dugaan Perlakuan Berbeda di Bengkalis
    04 Dari Pajak untuk Pembangunan: Desa Api-Api Gencarkan Kesadaran Warga Bayar PBB-P2
    05 Hasil Join Operation : Lapas Bengkalis Bersama Polri Ungkap Peredaran Narkoba di Bengkalis
    06 Pengiriman 10 Kg Sabu ke Pangkalan Kerinci Digagalkan Bareskrim Polri
    07 Jembatan Harapan di Ujung Negeri, Merah Putih Presisi Hubungkan Mimpi Warga Ketam Putih
    08 Panen Harapan dari Pesisir Muntai Barat, TNI AL dan Petani Buktikan Lahan Tidur Menjadi Sumber Pangan
    09 Polemik KTA PWI Bengkalis Memanas, Dahari: “Ini Seperti Maling Teriak Maling”
    10 Jaga Siak Kecil Tetap Bersih, Nicky Ajak Warga Disiplin Kelola Sampah
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2019 - Riauline.com