Ultimatum Tiga Bulan untuk Direktur Perumda Tirta Terubuk, DPRD Bengkalis: Air Tak Mengalir, Kepercayaan Publik Terancam
Bengkalis,Riauline.com – Suasana rapat dengar pendapat (RDP) lintas komisi DPRD Bengkalis, Senin (6/4/2026) sore, berlangsung tegang. Krisis air bersih yang tengah dialami masyarakat menjadi pemicu utama. Dalam forum yang mempertemukan anggota Komisi I, II, III, dan IV itu, Direktur Perumda Tirta Terubuk Bengkalis didesak mundur dari jabatannya karena dinilai tidak mampu mengatasi persoalan krisis air baku yang membuat waduk perusahaan daerah tersebut kering kerontang.
Rapat yang digelar di ruang Komisi I DPRD Bengkalis itu menjadi panggung evaluasi terbuka bagi manajemen Perumda Tirta Terubuk. Untuk ketiga kalinya, perusahaan air minum milik daerah tersebut dipanggil oleh DPRD. Namun hingga kini, solusi konkret atas terganggunya distribusi air bersih kepada masyarakat belum juga terlihat.
Anggota Komisi II DPRD Bengkalis, Firman, menyampaikan kritik keras terhadap kinerja manajemen Perumda Tirta Terubuk. Ia menilai persoalan yang terjadi bukan lagi sekadar kendala teknis, melainkan mencerminkan lambannya respons dalam menghadapi krisis.
“Ini sudah ketiga kalinya kita lakukan rapat. Tapi kondisi di lapangan masih sama. Kalau hal sederhana saja tidak bergerak, bagaimana mau bicara solusi besar? Kerja itu dimulai, bukan ditunggu,” tegas Firman dalam rapat tersebut.
Kritik serupa juga datang dari Fakhtiar Qodri yang memimpin jalannya rapat. Anggota Komisi III DPRD Bengkalis itu menegaskan bahwa persoalan air bersih tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa langkah nyata.
Menurut Fakhtiar, masyarakat membutuhkan tindakan konkret, bukan sekadar penjelasan yang berulang. Ia mengingatkan bahwa air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda pemenuhannya.
“Air adalah kebutuhan pokok. Tidak ada ruang untuk alasan yang terus diulang. Yang dibutuhkan sekarang adalah keputusan dan tindakan nyata,” tegasnya.
Tekanan semakin menguat ketika Sekretaris Komisi II DPRD Bengkalis, Rendra Wardana alias Yan Kancil, menyoroti stagnasi kinerja Perumda Tirta Terubuk. Ia menilai rapat demi rapat hanya menghasilkan penjelasan yang sama tanpa perubahan nyata di lapangan.
Menurutnya, jika dalam tiga bulan ke depan tidak ada perkembangan signifikan, maka mundur dari jabatan merupakan konsekuensi yang harus diambil oleh pimpinan perusahaan daerah tersebut.
“Tiga kali rapat, tapi tidak ada pergeseran. Ini bukan lagi soal kendala, melainkan soal keseriusan. Kami beri waktu tiga bulan, kalau tidak ada hasil, mundur adalah konsekuensi logis,” ujarnya.
Sorotan paling tajam juga disampaikan oleh anggota DPRD lainnya, Hendra Jeje. Ia mempertanyakan langsung akuntabilitas pimpinan Perumda Tirta Terubuk yang dinilai belum mampu menjembatani kesenjangan antara rencana dan realisasi.
“Masyarakat tidak hidup dari rencana. Mereka butuh air hari ini, bukan janji besok. Kalau tidak ada kemampuan untuk mengeksekusi, jangan dipaksakan bertahan,” tegas Hendra.
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Direktur Perumda Tirta Terubuk Bengkalis, Abel Iqbal, akhirnya memberikan penjelasan di akhir rapat. Ia mengakui bahwa saat ini sumber air baku mengalami kekeringan akibat musim kemarau, sehingga pasokan air ke waduk perusahaan daerah tersebut menurun drastis.
Menurut Abel, pihaknya telah berupaya mencari sumber air alternatif dengan menggali sumur air baku hingga menjalin komunikasi dengan masyarakat desa untuk mencari potensi sumber air di kebun maupun kawasan hutan, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Saat ini, kata dia, Perumda Tirta Terubuk tengah berupaya meminta dukungan dari PT Meskom dan Koperasi Meskom Sejati agar dapat mengalirkan air dari waduk milik perusahaan tersebut ke waduk Perumda Tirta Terubuk guna mengatasi krisis yang terjadi.
“Memang saat ini musim kemarau dan air baku sangat terbatas. Semua upaya sudah kami lakukan. Jika nanti hasilnya tetap tidak maksimal, tentu kami menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah dan DPRD untuk menentukan langkah selanjutnya bagi Perumda Tirta Terubuk,” ujarnya.
Komentar Anda :