Home | Nasional | Internasional | Daerah | Politik | Hukrim | Ekonomi | Sport | SerbaSerbi | Tekno | Lifestyle
 
Panas di Ruang Rapat DPRD Bengkalis, Mahasiswa Desak Kadisdagprin Mundur Soal Krisis Pertalite
Senin, 06-04-2026 - 19:11:12 WIB | Alfis
Ketua PMII Kabupaten Bengkalis, Syahrul Mizan meminta Kadisdagperin Bengkalis mundur dari jabatan karena dinilai tidak mampu mengatasi krisis BBM di Bengkalis.
TERKAIT:
   
 

Bengkalis,Riauline.com - Suasana rapat dengar pendapat (RDP) lintas komisi di DPRD Bengkalis, Senin (6/4/2026) sore, berubah panas. Di ruang Komisi I DPRD Bengkalis, pertemuan yang semula dimaksudkan untuk mencari solusi atas persoalan BBM bersubsidi justru diwarnai adu argumen antara mahasiswa dan perwakilan pemerintah daerah.


Rapat tersebut dipimpin oleh Anggota Komisi III DPRD Bengkalis, Fakhtiar Qodri, serta dihadiri sejumlah pimpinan komisi, perwakilan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, dan organisasi mahasiswa. Dari pihak pemerintah hadir Asisten I Setdakab Bengkalis Ed Efendi serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagprin) Bengkalis Zulpan bersama jajaran kepala bidang.


Isu utama yang memicu ketegangan adalah sulitnya masyarakat mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite di Pulau Bengkalis. Dalam rapat itu, Fakhtiar Qodri menegaskan bahwa kondisi di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda dengan laporan ketersediaan BBM.


“Faktanya masyarakat sangat kesulitan mendapatkan Pertalite. Setiap hari antrean panjang terjadi di SPBU, bahkan masyarakat harus menunggu berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan BBM,” tegas Fakhtiar dalam rapat tersebut.


Ketegangan semakin meningkat ketika perwakilan mahasiswa diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Ketua PMII Kabupaten Bengkalis, Syahrul Mizan, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan langsung di lapangan dan menemukan kondisi yang memprihatinkan.
Menurutnya, antrean panjang yang terjadi setiap hari menunjukkan adanya persoalan serius dalam distribusi BBM bersubsidi di daerah tersebut.


 “Masyarakat berjemur dalam antrean panjang untuk mendapatkan Pertalite. Kalau dibilang BBM cukup, kenapa antrean selalu terjadi? Ini menunjukkan adanya kegagalan dalam pengelolaan distribusi,” ujar Mizan.


Tidak hanya menyampaikan kritik, Mizan juga secara tegas meminta Kepala Disdagprin Bengkalis, Zulpan, untuk mundur dari jabatannya. Ia bahkan meminta Bupati Bengkalis mengambil langkah tegas jika persoalan ini tidak segera teratasi.
Menurutnya, Bengkalis sebagai wilayah yang masuk kategori daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) seharusnya mendapatkan kebijakan khusus dalam pendistribusian BBM. Ia menilai kebijakan yang disamakan dengan daerah di daratan Sumatera justru merugikan masyarakat pulau.


Menanggapi kritik tersebut, Asisten I Setdakab Bengkalis Ed Efendi menjelaskan bahwa persoalan distribusi BBM tidak lepas dari kebijakan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yang melarang penjualan BBM secara eceran. Pemerintah daerah, katanya, telah berupaya menyurati BPH Migas agar memberikan kelonggaran bagi wilayah pulau seperti Bengkalis.


“Kami sejak akhir tahun lalu sudah menyampaikan surat ke BPH Migas agar ada kebijakan khusus bagi pengecer di Pulau Bengkalis. Bahkan surat tersebut kembali kami kirimkan agar ada kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat,” jelas Ed Efendi.


Sementara itu, Kepala Disdagprin Bengkalis Zulpan menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan tersebut, termasuk menyampaikan permohonan kelonggaran bagi daerah 3T kepada BPH Migas. Selain itu, penggunaan sistem akun XStar untuk distribusi BBM juga telah disosialisasikan kepada seluruh kepala desa sejak awal tahun.


Namun di sisi lain, anggota Komisi I DPRD Bengkalis Syakib Arsalan menilai persoalan ini seharusnya sudah diantisipasi sejak lama. Ia mengingatkan bahwa regulasi dari BPH Migas memang tidak bisa dibantah, tetapi pemerintah daerah harus mampu mencari solusi agar masyarakat tidak menjadi korban kebijakan.


Ia juga menyoroti kondisi di lapangan yang memperlihatkan adanya lonjakan harga BBM hingga mencapai Rp20 ribu per liter di tingkat penjualan tertentu. Menurutnya, situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena akan semakin memberatkan masyarakat yang bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari.


 




 
Berita Lainnya :
  • Panas di Ruang Rapat DPRD Bengkalis, Mahasiswa Desak Kadisdagprin Mundur Soal Krisis Pertalite
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Indeks Berita  
    01 Dunny Duvira Harapkan Ranting PGRI 4 Bukit Batu Jadi Motor Kemajuan Pendidikan
    02 Pelabuhan Batu Panjang Diproyeksikan Jadi Gerbang Baru Transportasi Laut Pulau Rupat
    03 Dari Laporan Warga ke Penangkapan, Sembilan Paket Sabu Digagalkan Polsek Siak Kecil
    04 Dari Duri untuk Bengkalis: Musancab PDIP Perkuat Barisan, Kawal Pembangunan Daerah
    05 Tiga Paket Sabu dan Sebuah Pengungkapan di Rawa Panjang
    06 PGRI Bukit Batu Kukuhkan Pengurus Baru, Siap Perkuat Solidaritas dan Majukan Pendidikan
    07 Teror Api di Batang Duku Terungkap, Polisi Tetapkan Tersangka Pembakaran Rumah yang Tewaskan Pasutri Lansia
    08 Semangat Berkurban dan Kebersamaan, IKMR Bukit Batu Sembelih Hewan Kurban untuk Warga
    09 Teror Kebakaran Hantui Warga Batang Duku, Lima Rumah Ludes dalam Dua Bulan dan Telan Korban Jiwa
    10 Polsek Bukit Batu Tinjau Penanaman Nenas di Desa Tanjung Leban, Dukung Ketahanan Pangan Nasional
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2019 - Riauline.com