Bengkalis,Riauline.com - Minggu malam itu, 28 Februari 2026, suasana di Jalan Pertanian, Kabupaten Bengkalis, terasa berbeda dari biasanya. Jika pada malam-malam Ramadan sebelumnya lokasi ini kerap dipenuhi deru knalpot dan sorak penonton balap liar, kali ini yang terdengar justru hitungan aba-aba dan tepuk tangan warga menyemangati para pelari muda. Di bawah inisiatif Polres Bengkalis, jalan yang sempat dicap rawan itu berubah menjadi lintasan kompetisi yang sehat dan penuh keceriaan.
Kegiatan balap lari tersebut digelar sebagai bagian dari upaya menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Fenomena balap liar bukan hanya meresahkan warga, tetapi juga berisiko menimbulkan kecelakaan fatal.
Alih-alih hanya melakukan penertiban, jajaran kepolisian memilih pendekatan berbeda. Mereka menginisiasi lomba lari jarak pendek sebagai wadah penyaluran energi dan semangat kompetisi generasi muda. Ide sederhana itu ternyata mampu mengubah atmosfer malam menjadi lebih positif dan terkendali.
Kapolres Bengkalis, Fahrian Saleh Siregar, menegaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum memperbanyak kegiatan yang bermanfaat. Baginya, remaja tetap membutuhkan ruang untuk berekspresi dan berkompetisi, namun dalam koridor yang aman dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Kami ingin memberikan ruang kepada adik-adik kita untuk tetap bisa beraktivitas dan menyalurkan semangat kompetisi mereka, namun dalam bentuk yang sehat, aman, dan terkontrol,” ujarnya di sela-sela kegiatan. Pernyataan itu menggambarkan pendekatan humanis yang kini semakin ditekankan dalam pola pengamanan wilayah.
Sejak sebelum acara dimulai, puluhan peserta telah memadati lokasi. Mereka datang berkelompok, mengenakan pakaian sederhana, sebagian masih mengenakan peci atau sarung yang dilepas sebelum berlomba. Di tepi jalan, warga berdiri berjejer, menyaksikan dengan rasa ingin tahu sekaligus harapan bahwa malam-malam Ramadan kali ini akan lebih tertib.
Personel kepolisian tampak sigap mengatur arus lalu lintas dan memastikan keamanan lintasan. Dengan sistem pertandingan jarak pendek yang diawasi langsung oleh petugas, lomba berlangsung tertib. Tidak ada suara knalpot bising, tidak ada aksi kebut-kebutan yang memacu adrenalin berlebihan yang ada hanya derap langkah kaki dan tawa ringan para peserta.
Lebih dari sekadar kompetisi, balap lari ini menjadi ruang silaturahmi. Polisi dan masyarakat berbaur tanpa sekat. Para remaja yang biasanya mungkin hanya melihat aparat saat razia, kini berdialog santai, bercanda, bahkan berfoto bersama. Pendekatan ini perlahan membangun rasa percaya dan kedekatan.
"Kami tetap berkomitmen menghadirkan lebih banyak inovasi preventif dan edukatif. Dengan sinergi antara aparat dan masyarakat, upaya menjaga keamanan bukan lagi sekadar penegakan hukum, melainkan gerakan bersama," kata perwira berpangkat dua melati ini.
Bagi warga sekitar, perubahan suasana itu terasa signifikan. Mereka bisa beribadah dengan lebih tenang tanpa khawatir anak-anak terlibat balap liar atau terganggu kebisingan malam. Harapan pun tumbuh agar kegiatan serupa terus digelar, tidak hanya saat Ramadan tetapi juga pada momen-momen lain.
Komentar Anda :