Melawan Gerus Ombak Selat Melaka, Rupat Utara Mendesak Tambahan Penahan Gelombang
Bengkalis,Riauline.com - Setiap tahun, garis pantai Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, kian tergerus. Ombak Selat Melaka yang tak pernah lelah menghantam daratan perlahan mengikis pesisir, meninggalkan kekhawatiran bagi masyarakat yang hidup dan bergantung pada wilayah pantai tersebut.
Abrasi di Rupat Utara bukan sekadar ancaman lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi. Lahan warga menyusut, pepohonan tumbang, dan jarak antara laut dengan permukiman semakin dekat. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak agar kerusakan tidak semakin meluas.
Camat Rupat Utara, Aulia Fikri, mengungkapkan bahwa laju abrasi yang tinggi membuat pembangunan penahan gelombang air laut menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, tanpa perlindungan tambahan, dampak abrasi akan terus bertambah parah dari tahun ke tahun.
“Ada tiga titik pantai yang perlu dibangun penahan gelombang,” ujar Aulia Fikri ketika dihubungi, Selasa (17/2/25) dimana ketiga lokasi tersebut tersebar di wilayah pesisir yang paling terdampak abrasi dan berhadapan langsung dengan Selat Melaka.
Rinciannya, penahan gelombang dibutuhkan di Desa Tanjung Medan sepanjang 500 meter, Desa Teluk Rhu sepanjang 500 meter, serta Desa Tanjung Punak dengan panjang paling besar mencapai 2 kilometer. Total kebutuhan penanganan ini menjadi gambaran nyata besarnya ancaman abrasi di Rupat Utara.
Usulan pembangunan penahan gelombang tersebut, kata Aulia, sebenarnya sudah disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) setiap tahunnya. Namun, hingga kini realisasi pembangunan masih belum dapat dipastikan.
“Kami sudah mengusulkan secara rutin, tetapi masuk atau tidaknya usulan tersebut, kami belum mengetahui secara pasti,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa usulan pembangunan tersebut berada dalam kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Letak geografis Rupat Utara yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka membuat wilayah ini sangat rentan terhadap gelombang laut dan arus kuat. Tanpa penahan gelombang yang memadai, abrasi menjadi proses alam yang sulit dibendung.
Masyarakat pesisir pun berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan penahan gelombang. Bagi mereka, struktur ini bukan hanya pelindung pantai, tetapi juga benteng terakhir yang menjaga ruang hidup dan mata pencaharian.
Jika tidak segera ditangani, abrasi dikhawatirkan akan terus menggerus daratan Rupat Utara. Harapan kini tertumpu pada sinergi pemerintah daerah dan pusat agar upaya melawan gerus ombak Selat Melaka dapat segera terwujud demi masa depan pesisir Rupat Utara.
Komentar Anda :