BENGKALIS,Riauline.com - Bengkalisku hari ini tak lagi sekadar cerita tentang laut yang tenang dan kehidupan pesisir yang bersahaja. Di Pulau , antrean telah menjadi potret keseharian. Dari pelabuhan penyeberangan hingga tempat pengisian BBM, masyarakat dipaksa berdamai dengan waktu yang berjalan lambat.
Di lintasan laut Bengkalis–Sungai Pakning, hanya satu armada Roro yang beroperasi. Kondisi ini membuat kendaraan menumpuk di pelabuhan, menunggu giliran menyeberang berjam-jam bahkan hingga berhari-hari. Laut yang seharusnya menjadi jalur penghubung, kini menjadi titik awal keterlambatan distribusi.
Dampak dari tersendatnya penyeberangan itu merambat ke berbagai sektor. Pasokan kebutuhan pokok, termasuk bahan bakar minyak (BBM), ikut terganggu. Bengkalis sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi pulau pun merasakan tekanan yang kian berat.
Antrean tak berhenti di laut, ia berlanjut di darat. Di Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS), masyarakat kembali harus berbaris panjang demi mendapatkan BBM. Budaya antre terus digalakkan, meski rasa lelah dan jenuh tak bisa disembunyikan.
Seperti yang dikeluhkan Andi, seorang tukang ojek, antrean BBM menjadi ujian hidup sehari-hari. Ia terpaksa menunggu berjam-jam di APMS Nurhayati untuk mendapatkan BBM jenis pertalite bagi sepeda motor roda dua yang menjadi sandaran nafkahnya.
“Kalau tidak dapat BBM, saya tidak bisa bekerja,” ujar Andi, Kamis (18/12/25). Baginya, pertalite bukan sekadar bahan bakar, melainkan penentu apakah dapur bisa mengepul atau tidak hari itu. Antrean panjang berarti waktu kerja yang terpotong dan pendapatan yang menurun.
Kondisi ini diperparah dengan hanya satu APMS yang beroperasi di pulau tersebut. Sementara itu, (BLJ) tidak beroperasi karena tengah melakukan renovasi. Padahal, perusahaan semi plat merah ini merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemkab Bengkalis yang seharusnya menjadi penopang distribusi energi masyarakat.
Akibatnya, beban pelayanan BBM sepenuhnya tertumpu pada satu APMS. Warga dari berbagai penjuru pulau berkumpul di satu titik, membentuk barisan panjang kendaraan yang mengular sejak pagi hingga malam hari.
Antrean ini menjadi salah satu potret nyata kondisi Bengkalis saat ini. Dampaknya berlapis, mulai dari tersendatnya distribusi bahan pokok, melemahnya daya beli masyarakat, hingga berkurangnya pendapatan pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup pada mobilitas harian.
Bengkalisku kini adalah kisah tentang ketahanan dan kesabaran. Dari laut yang membatasi laju penyeberangan hingga darat yang dipenuhi antrean BBM, masyarakat Bengkalis bertahan di tengah keterbatasan. Harapan mereka sederhana: armada penyeberangan kembali normal, APMS beroperasi penuh, dan kehidupan pulau bisa kembali bergerak tanpa harus selalu berdiri dalam barisan panjang penantian.
Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Bengkalis Zulpan, menegaskan bahwa antrean kendaraan di APMS Nurhayati bukan disebabkan kelangkaan BBM, melainkan dampak penyesuaian distribusi di lapangan.
Menurut Zulpan, antrean terjadi karena APMS PT. BLJ Air Putih tengah menjalani proses perbaikan dan belum dapat beroperasi sementara waktu. Akibatnya, konsumen yang biasa mengisi BBM di lokasi tersebut beralih ke SPBU lain yang lebih dekat dengan pusat kota.
“Tidak ada kelangkaan BBM di Bengkalis. Hingga saat ini, pihak APMS juga tidak mengajukan permintaan rekomendasi penambahan kuota. Artinya, stok BBM kita masih aman,” tegasnya.
Penutupan sementara APMS PT BLJ Air Putih menyebabkan lonjakan kendaraan di dua SPBU alternatif, yakni di Jalan Bantan dan Jalan Lembaga. Peningkatan volume kendaraan di titik-titik tersebut membuat antrean terlihat lebih panjang dari kondisi normal, meski pasokan BBM tetap tersedia sesuai kuota yang ada.
Zulpan juga menjelaskan bahwa pasokan BBM ke Bengkalis sangat bergantung pada jadwal penyeberangan kapal Roro dari Pakning. Kapal biasanya berangkat setelah seluruh mobil tangki tiba di pelabuhan, sekitar pukul 13.00–14.00 WIB. Setibanya di Bengkalis, proses pembongkaran dilakukan sekitar pukul 15.00 WIB dan memerlukan waktu kurang lebih satu jam sebelum BBM siap disalurkan.
Untuk menjaga stabilitas distribusi, Pemerintah Kabupaten Bengkalis terus berkoordinasi dengan pihak APMD dan Pertamina. Masyarakat pun diimbau tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan. “Kami memastikan ketersediaan BBM aman dan tercukupi. Antrean ini bersifat sementara dan akan kembali normal setelah APMS Air Putih selesai diperbaiki,” pungkas Zulpan.
Komentar Anda :