Bau Menyengat dari Limbah Tankos Ganggu Warga : “Lengket di Baju, Lalat Tak Terhitung”
BENGKALIS,Riauline.com — Aroma anyir yang menusuk hidung itu tercium bahkan sebelum memasuki kawasan Desa Pangkalan Batang Barat, Kecamatan Bengkalis. Bagi warga yang tinggal hanya beberapa meter dari areal perkebunan PT Meskom Agro Sarimas, bau tersebut bukan lagi hal baru, melainkan gangguan yang sudah berlangsung lebih dari sepekan. Sumbernya jelas, tumpukan limbah tandan kosong (tankos) sawit yang menggunung di dekat permukiman.
Saat hari cerah, aromanya sudah membuat warga meringis. Namun ketika hujan turun, keluhan berubah menjadi penderitaan. Kondisi limbah yang lembab membuat bau semakin menyengat, merayap hingga ke dalam rumah, menempel pada pakaian, bahkan sulit hilang meski pintu dan jendela ditutup rapat.
“Kalau sudah hujan, baunya susah dijelaskan. Sampai lengket di baju. Kami benar-benar resah,” ujar seorang warga, Kamis (27/11/25).Ia mengaku sudah lebih seminggu hidup dalam ketidaknyamanan akibat keberadaan limbah tankos tersebut.
Bukan hanya bau yang menjadi masalah. Serangan lalat yang muncul dari area penumpukan limbah semakin banyak. Warga lainnya mengatakan lalat kerap memenuhi dapur dan ruang keluarga, membuat aktivitas harian terganggu.
“Lalat banyak sekali. Kami takut nanti ada bakteri atau penyakit. Anak-anak juga kena dampaknya,” keluhnya.
Tankos limbah padat biomassa dari proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali sebagai kompos atau bahan bakar biomassa. Namun tanpa pengelolaan yang tepat, limbah ini dapat menimbulkan persoalan lingkungan serius, salah satunya bau busuk dan ledakan populasi lalat seperti yang kini dialami warga.
Mendapat laporan dari masyarakat, Pj Kepala Desa Pangkalan Batang Barat, Ujiyanto, S.Pd., M.Pd., langsung turun tangan. Bersama BPD, Kadus, RT/RW, hingga Bhabinkamtibmas, ia meninjau langsung lokasi penumpukan limbah pada Selasa lalu. Ia mengakui kondisi tersebut sudah melewati batas kenyamanan warga.
“Kami sudah meminta pihak perusahaan segera mengevakuasi tankos yang menimbulkan bau dan banyak lalat ini. Masyarakat tidak boleh dirugikan,” tegas Ujiyanto. Ia menyebut pembersihan memang sudah dimulai, namun baru berlangsung secara bertahap dan belum tuntas.
Meski demikian, pihak desa terus mendorong agar penyelesaian dilakukan secepat mungkin. “Kami mendesak agar ini segera diselesaikan demi kesehatan dan kenyamanan masyarakat. Jangan sampai berlarut-larut,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada media yang telah meliput dan memberikan perhatian terhadap kesehatan warga.
“Terima kasih kepada rekan media yang peduli,” ujarnya.
Di tengah harapan masyarakat agar perusahaan memperbaiki tata kelola limbah dan mencegah peristiwa serupa terulang, pihak Humas PT Meskom hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan terkait persoalan tersebut.
Komentar Anda :